Cerita ini saya ambil dari salah satu buku Saham Pemenang
Ketika saya masih kecil, sanagat egois dan selalu memngambil yang terbaik
untuk diri sendiri. Perlahan , semakin banyak orang yang menjauhi saya. Saya
tidak pernah berpikir jika itu salah akan tetapi mengkritik dan menyalahkan
orang lain.
Ayah memberi saya tiga nasehat, memilih mie untuk membantu saya agar bijak
menjalani hidup.
Suatu hari ayah saya memasak 2 mangkuk mie dan meletakan dua mangkuk mie
diatas meja. Satu mangkuk hadir dengan satu telur dibagian dan mangkuk lainnya
tidak memiliki telur diatasnya.
Ayah berkata, “anakku. Silahkan kamu pilih, magkuk mana yang kamu
inginkan”. Telur sangat sulit didapat pada saat itu! So, saking dari sulitny
jika mau makan telur hanya ketika ada festifal dan tahun baru saja. Tentu pada
saat itu saya lebih memilih mankuk dan telur! Saat kami mulai makan. Saya
mengucapkan selamat kepada diri saya sendiri atas pilihan yang bijak untuk
memakan telur tersebut. Lalu saya terkejut ketika ayah memakan mie pada saat
itu, ternyata ada dua telur dibawah mangkuknya yang tersembunyi dibagian bawah
mie, dan seketika saya menyesal dan memarahi diri ku sendiri karena
terburu-buru dalam memngambil sebuah keputusan, ayah tersenyum dan merasa iba
terhdfap say, “Anak Ku. Kamu harus ingat apa yang dilihat mata anda mungkin
tidak benar. Jika kamu berniat untuk mengambil sebuah keuntungan dari
orang-orang sekitarnya kamu, kamu akan berahir dengan kekalahan”.
keesokan harinya, ayah kembali memasak dua mangkok mie, satu mangkuk dengan
telur diatasnya dan mangkuk lainya tanpa telur diatasnya. sekali lagi dia
meletakan dua mangkok diatas meja lalu berkata kepada saya. “ anak ku, silahkan kau pilih mangkuk mana yang kamu
sukai?. kali ini saya lebih pintar memilih mangkuk yang gak ada telur
diatasnya, yang sangat mengejutkan, saat saya memisahkan mie diatas, tidak ada
satu telur diatas dasar mangkuk! sekali lagi ayah tersenyum dan berkata kepada
saya “ Anak ku kamu tidak harus bergantung pada suatu pengalaman karena
kadang-kadang pengalaman dapat mengecohmu atau bahkan menipu kamu. tapi kamu
tidak usah terlalu sedih bahkan menyesalinya, justru perlu perlakuan hal ini
sebagai pengkayaan wawasan yang didapat dari proses pembelajaranmu. kamu tidak
akan mendapatkan pelajaran semacam ini dari buku teks atau bangku kuliah.
Hari ketiga, ayah lagi memasak 2 mangkuk mie lagi,
lagi satu mangkuk dengan telur diatasnya dan mangkuk lainya tanpa telur
diatasnya. dia meletakan 2 mangkuk diatas meja dan kembali berkata kepada saya,
“Anakku silahkan kamu pilih. mangkuk mana yang kamu suka?”. kali ini aku memberi
tahu ayahku, “Ayah, kamu pilih dulu. ayahb adalah kepala keluarga dan
betrkontribusi paling banyak kepoada keluarga.” ayah tidak menolak dan memilih
mangkuk dengan satu telur diatasnya. dan saya saat makan semangkuk mie di hati
berkata pasti tidak ada telur diatas mangkuk mie saya, akan tetapi yang
mengejutkan ternyata ada dua telur diatas dasar mangkuk yang saya pilih.
ayah saya tersenyum kepada saya dengan cinta
dimatanya, “Anak ku, kamu harus ingat. ketika kamu berpikir unt uk kebaikan
orang lain, hal-hal baik akan selalu terjadi pada diri mu.
maka dari itu hal yang
bisa dapat saya ambil dari cerita ini adalah 3 nasehat “memilih mie”.
Oleh : Ahmad Al Imron

Tidak ada komentar:
Posting Komentar