Jumat, 12 April 2019

Kami Besar Karna Organisasi, Bukan Organisasi Besar Karna Kami

Kebersamaan DEMA FEBI

Heys sobat,

Kali ini saya akan menuliskan sebuah cerita dari keluarga  kedua setelah rumah, so sebenarnya ini adalah sebuah organisasi yang kami masuki dan kami bina bersama selama satu tahun kepengurusan kedepanya, ya seperti yang kalian rasakan selama ini dalam sebuah keluarga pasti ada manis dan juga pahitnya, sesekali pun itu adalah keluarga orang kaya, keluarga raja bahakan keluarga seorang penguasa.

Sama halnya dengan sebuah oraganisasi, yaa sebut saja adalah Dewan Ekskutif Mahasiswa Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Islam (DEMA FEBI), tapi mohon maaf temen-temen saya tidak akan menceritakan lebih jauh terhadap organisasinya melainkan proses bagaimana menjaga dan memajukan sebuah organisasi tersebut bersama-sama, so jika  berbicara masalah organisasinya apalah daya, saya bukan siapa-siapa didalamnya, yang pantas adalah temen-teman disekitar saya, karena merekalah yang sangat hebat.

Heheh kog jadi curhat gini ya, mohon maaf penulisnya mudah baper nih.....!

Jadi gini temen-temen tak kiaskan dengan sebuah jalan dikampung, perkotaan dan sebagainya. jika seandainya jalan tersebut hanya berupa jalan yang lurus tanpa belokan, jalan yang mulus tanpa lubang, mesti yang dirasakan pengumidi adalah kurang tertantang dan selalu merasa nyaman dalam zonanya, al hasil apa yang terjadi?. bengkel sepi, jalanan penuh dengan kebut-kebutan, nenek-nenek gak bisa nyebrang dsb (iya itu persepsinya,heheh agak bodoh yak?).

Lah sama temen-teman dalam sebuah organisasi juga demikian, jika organisasi itu berjalan lurus tanpa ada tantangan, tanpa ada hadangan, pasti organisasi itu akan stagnan, kenapa? Karena saya sangat meyakini orang-orang didalamnya pasti merasakan kenyamanan tanpa ada beban dan kewajiban untuk memajukanya.

Lah maka dari situlah kami bersama-sama membangun karakter SDM didalam sebuah oragnisasi tersebut, SDM yang menjadi Prioritas kami, bukan organisasinya, so tujuan organisasi yang sebenarnya merubah orang yang gak baik menjadi baik setalah masuk oragnisasi, merubah orang pesimis menjadi optimis itulah organisasi. Itulah sebenarnya yang tidak dipahami oleh sebagian dari diri kita (Termasuk Penulis) maka tidak jarang disebuah organisasi yang dilantik dan disumpah dengan kitab suci Al-Qur’an berpuluh-puluh orang dan yang bekerja hanya 5 bahkan 3 orang.

Maka dari situlah kekompakan serta kepemilikan dan loyalitas terhadap organisasi akan tumbuh. Al Hasil meski banyak hambatan, banyak masalah pasti orang-oraang yang ada didalamnya sudah kuat dan kokoh demi sebuah tujuan organisasi tersebut.

menurut saya dalam sebuah organisasi layakanya kita akan diajarkan keindonesian yang sebenarnya, kenapa ? karna dalam sebuah organisasi kita akan diahadapkan dengan sebuah perbedaan satu sama lainya, ada yang berwatak A,B,C dsb. Pasti itu sudah lumrah dalam organisasi, akan tetapi kita gak usah takut, justru dari perbedaan dari watak sifat dan lain halnya akan menyatukan kita dalam sebuah tujuan.

Heheheh Gitu aja ya temen-temen Insyaallah Kita Kan Nyambug Ke Part 2.

Oleh : Ahmad Al Imron

Selasa, 09 April 2019

Ayok Berdagang Buanglah Mental Pegawai!



Bob Sadino (Ceo PT. Kemfood) telur intrepreneur 

Ketika kemakmuran sudah didepan mata
 ”Dan kami turunkan besi, yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia (QS. 57:25)”.

Dari sini saya akan mengutip sebuah majalah The Economict yang pernah saya baca, so sejauh ini kita indonesia diakui sebagai penghasil gas alam terbesar di dunia, karet terbesar kedua dan pengahasil minyak sawit terbesar di dunia, lantas mengapa kita sampai saat ini tidak makmur?.

Maka dari itu ada sebuah kiasan nih temen-temen, konon pemimpin thailan bertanaya kepada malaikat, “kapan negeri ku akan makmur nih malaikat?” kemudian malaikat itu menjawab 30 tahun lagi. Sepintas pemimpin thailand langsung menangis tersedu-sedu.

Lanjut kemudian pemimpin Vietnam menanayakansebuah pertanyaan yang serupa, dan jawabanya pun sama “yaitu 30 tahun lagi negara mu akan makmur”. Al hasil mereka berdua menangis tersedu-sedu.

Oke temen-temen yang terahir adalah kita, iya kita Indonesia, dan pertanyaan pun sanagat serupa. “wahai malaikat kapankah negeri ku ini akan makmur?” dan langsung seketika itu malaikat yang menangis tersedu-sedu.

Heheh, ya begitulah candaanya temen-temen, sungguh saya sangat mencintai negeri ini. Dan saya sangat percaya negeri ini akan makmur , jika minimal 2 persen masyarakatnya menguasai simpul perdagangan. Sayangnya sekarang masih 0,81%.

Lebih mirisnya  simpul perdagangan hampir tidak pernah sama sekali diajarkan dibangku sekolah. Yang sangat dihargai adalah Indeks Prestasi Komulatif (IPK) . padahal toh didunia nyatanya yang sangat dihargai adalah Pendapatan Komulatif.

So lama-lama, sekolah dan dunia nyata layaknya dua orang yang bukan muhrim! Tidak bisa bersentuhan! Dan pada ahirnya, setiap tahun hampir sejuta lulusan perguruan tinggi luntang lanting menggangur gak dapet pekerjaan yang mereka impikan. Sebabnya, bisa saya tebak yang ada difikiran mereka cuman kepikir bagaimana caranya mencari simpul pekerjaan, boro-boro mereka memikirkan simpul perdagangan, Gitu kan temen-temen?.

By The Way, kesimpulan nih, anda semua mungkin tidak suka dengan bangsa yahudi, namun demikian tidak ada salahnya bukan jika kita sedikit belajar dari mereka. Sejumlah kampus di israel mengahruskan mahasiswanya tepatnya dari fakultas ekonomi dan kebetulan saya singgung Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam INZAH-Genggong  jika itu dikampus kami. Kemabali lagi di kampus israel yaitu menggarap suatu proyek sebagai tugas ahir perkulihannya. Bekerja berkelompok, per Team, mereka hanya bisa lulus jika proyeknya sudah bisa mendapatkan income Satu Juta Dolar atau sekitaran Rp 9 Miliar, ahha ini lho baru namanya IPK yang dikerjar Indeks Prestasi Komulatif. Lah jika senadinya dikampus kami gtu ya? Pasti saya yakin simpul perdagangan akan dikuasai oleh pribumi asli probolinggo bukan chines, moro-moro kayak gtu ya, lah owg Skripsi aja gak kelar-kelar ya? Hihihi.

Sory tulisan ini kami buat lantaran bukan mau menyinggung pembaca yang budiman, lebih tepatnya tulisan ini snegaja kami buat lantaran untuk memotivasi diri sendiri saja.
Thank You.

Oleh : Ahmad Al Imron (Ippho ‘Right’ Santoso)


Kecerdesan Berkomunikasi Itu Penting

Diskusi Panel Bersama HIPMI PT INZAH

Gini temen-temen kenapa  judul ini ditulis, karena yang saya rasakan selama ini dalam sebuah perjalanan selama jangka 2 tahun terahir ini. So yang saya rasakan kecerdesaan bukan hal yang utama akan tetapi membangun komunikasi (link) jauh lebih prioritas ketimbang sebuah kecerdasan.

So dalam kesimpulannya, siapapun dan apapun kita serta profesi yang kita jalani  kebutuhan akan komunikasi yang baik merupakan sebuah hal yang sangat urgen.

Bukan berarti kecerdesan berfikir tidak penting, soalnya dengan kemampuan berpikir mampu menggagas ide kreatif dan cemerlang atau mencari sebuah solusi untuk mengatasi dan keluar dari masalah bukan suatu hal yang mudah.

Misalkan nih tak contohkan dengan seorang guru yang mengajar sebuah bidang ilmu, tapi dia tidak mampu mengkomunikasikanya dengan baik, besar kemungkinan pasti disitu akan ada gap kemengertian antara dirinya dengan para muridnya toh. Al hasil mungkin saja dia cerdas tapi tidak mampu mencerdaskan muridnya.

Maka dari itu temen-temen kemampuan berkomunikasi sangat bisa ditingkatkan dengan sering bertemu, berkumpul serta berbicara dengan orang lain. Perluas wawasan dengan cara membaca, mendengar dan melihat. Orang yang wawasannya sangat luas punya banyak bahan untuk dia bisa menceritakan atau menjelaskan sesuatu atau ide sehingga dia mampu berbicara banyak dan lama sedetail mengkin. Ibarat memasak dan kita yang memasak , semakin banyak macam bahan baku dan alat masaknya yang tersedia, kita mampu memaksanya menjadi berbagai macam rasa dan bentuknya.

Sehebat apapun ide atau gagasan, sepinter dan secerdas apapun seseorang, jika tidak mampu berkomunikasi serta mengkomunikasinya dengan baik, maka ide tinggal ide, kepintaran serta kecerdasan tidak bisa memintarkan dan mencerdaskan orang lain. Bekerjasama dengan banyak orang pun bisa jadi sulit.

Oleh : Ahmad Al Imron

Minggu, 07 April 2019

Alam tidak Pernah Bertanya Tentang Siapa Kita

image Bromo sunset

Heys sobat,

Oke temen-temen kali ini saya akan menuliskan sebuah kisah yang agak nyentrik, dimana kali ini judulnya tentang sebuah pijakan kita yang selama ini kita temlati siang dan malam.
Oke sobat langsung aja ya.

Alam tidak pernah bertanya seberapa tinggi pendidikanmu, berapa besar penghasailanmu, apa status serta jabatanmu, ini lho alam.

Alam tidak pernah mempertnayakan apa warna kulitmu, apa nama bangsa mu serta agama dan ras mu.

Alam sangat peduli pada semua makhluk dan kehidupan, alam ini menghidupi semua ras etnis dan bangsa, alam yang begitu besar saja bisa mentoleril semua perbedaan, maka dari itu perbedaan itu menyatukan. Mengapa kita yang kecil dan lemah ini menjadi saling mendeskriminasi ?

Begitulah pesan singkat  dari sijenaka ku malam ini untuk ku, matur sembah nuhun. Berkah dalem.

Oleh : Ahmad Al imron

Ngeri! Perang Rusia-ukraina Negative Vibes buat emak-emak

Ngeri! berwaspada lah! Ini dia dampak dari perang Rusia-ukraina Operasi militer Rusia ke Ukraina akhirnya telah menjadi kenyataa...