Sabtu, 09 November 2019

Kalau menanam pohon cabai, mana mungkin berbuah mangga?

"Inna Ma'al Usri Yusra"

Masih ingat pepatah berikut, “Siapayang nabur angin, dia akan menuai badai?”. Ini lah pepatah yang cukup pas menggambarkan hokum sebab akibat dari perbuatan kita. Orang baik akan dibalas dengan kebaikan, orang jahat akan dibalas dibalas dengan kejahatan yang diperbuatnya.

Dunia ini diciptakan oleh Allah lengkap dengan atuaran main yang telah diaturnya lewat sunntullah-Nya. Siapaun tidak akan bisa lolos dari hokum sebab akibat, kecuali siapa yang Allah kehendaki. Boleh saja seorang tertawa sebab baru saja berhasil merampok nasabah bank misalnya. Tapi sejurus rampokannya habis, sedangkan iya terlanjur hidup hura hura sehingga melakukan lagi perampokan. Lah, karena modus operasinya sama dan kebetulan memang sedang dalam intaian, ia tertangkap. Habislah tawanya!

Banyak lagi peristiwa hokum sebab dan akibat. Resahnya seorang koruptur yang merasa nyawanya sedang diujung tanduk, cerita tentang seorang pelit dan kikir, lalu saat dia berada diposisi sulit, tidak ada seorang pun yang sedia membantunya.

Temen-temen pembaca semua, kalaulah kita yang berbuat salah, lalu hukumnya itu akan kita sendiri yang terima, atas idzin Allah.

Maka patut diingat bahwa Tuhan punya kalam ” Manusia Itu tergadai dengan apa yang dilakukannya.” Hendaklah diperhatikan bila kejahatan yang telah kita lakukan, kejahatan itulah yang senantiasa menjadi teman hidup sepanjang masa, bahkan berlanjut hingga kehari Hisab. Tapi bila kebaikan yang kita lakukan, kebaikan itu pulalah yang akan menenmani kita hingga ahir hayat kita dan menemani kita dihari perhitungan kelak. Sekali lagi pikirkan kalau pohon cabai yang kit ataman, tidak akan mungkin dia akan berbuah mangga.
Ahirnya, pilihan ujung kehidupan ada ditangan kita sendiri, senyuman kah yang kita pilih atau tangisan yang menyayat hati, hal-hal yang baik yang dikuasakan Tuhan kepada mereka yang baik-baik.

Ya Allah, keburukan hamba mengejar hamba kemanapun hamba melangkah dan dimanapun hamba berada. Kejaran keburkan hanya tinggal menunggu waktu yang engkai tetapkan. Kecauali engkau menghendaki untuk menahannya.

Ya Allah, sepanjang yang hamba tahu, keburukan hamba demikian banyak, sebanyak pasir diseanjag tepian laut. Alangkah sesatnya nafas hamba bila sampai engkau berkenan menjatuhkan hukuman kepada hamba atas segala dosa-dosa hamba.
Ya Allah, demia nama Mu yang maha meberikan Ampunan, Hanya Ampunan mu yang dapat menghentikan kejalan keburukan akibat petrbuatan buruk hamba. Dan bila hamba memperoleh ampunan Mu, itu sebab engkau Maha Kasih dan Maha Pemurah terhadap para pendosa.

Ya Allah, Maafkanlah Mereka yang hamab buat kecewa, yang hama buat merugi, dan hamba buat menderita. Gantilah kekecewaan mereka, kerugian meraka dan penderitaan mereka dengan sesuatu yang lebih baik dari sisi Mu yaitu ampunan, cinta, dan Kasih Mu, Amin.

Ahmad Al Imron


Minggu, 11 Agustus 2019

Rehan Dan Jannah Tidak Seberuntung Anak-anak pada Umumnya


dari kiri jannah & jannah
Rehan dan Jannah mereka anak desa yang ulet dan cekatan sperti halnya yang tertuai dalam gambar diatas.  Mereke berdua sedang berjibaku saling tolong menolong dimana masnya sebutan akrabnya Jannah kepada kakaknya yang bernama rehan tersebut. Si rehan memberikan tangannya kepada adeknya yang bernama jannah yang sedang kesulitan melewati jembatan ditengah sawah yang hanya terbuat dari belahan kayu jambu. Mereka begitu mesra. Dan tak kalah menarik mereka memberikan pelajaran yang tersirat kepada kita semua yang melihatnya, dimana mereka mengajarkan indahnya kebersamaan.

Akan tetapi tidak sampai disitu temen-teman kisah Rehan & Jannah. Mereka berbeda dari anak kecil pada umumnya, mereka berdua adalah anak yatim yang ditinggal orang tuanya sejak dia kecil.

Sebut saja Rehan anak kecil yang sangat ganteng layaknya mirip dengan Habib (ya meski kata ibunya sendiri sih,wkwk) dia putra dari pasangan Sumiati dan Imam Ghazali. akan tetapi siapa sangka anak yang begitu ganteng dan masih belum pantas merasakan hiruk pikuknya sebuah kehidupan. Si rehan merasakan semua itu. Tepatnya pada Hari Jum’at Ba’da Sholat Subuh ayahnya yang bernama Imam Ghazali wafat, dan yang wafatnya mungkin semua kaum muslim menginginkan hal yang seperti ini, beliau wafa Wafat Ba,da sholat subuh dalam keadaan Sujud dimosholla Rumahnya, Masya Allah. Terang kata istrinya.

Pada saat itu rehan masih berusia 2 tahun. Anak ini udah ditinggal sama ayah tercintainya. Disaat itu rehan hanya sekedar menangis dan gak tau apa yang telah terjadi. Dia hanya memandang kerumunan orang, dengan pandangan yang sangat kosong. “ Mas Mas Kenapa ayah kok udah gak bergerak mas”?. Rehan yang bertanya-tanya kepada saya saat menggendongnya. “Rehan, Ayah tidak apa-apa  hanya tertidur lelap” Terang saya sambil mengusap air matanya yang mengalir dari pelipis-pelipis pipinya. Sungguh pada saat ini saya merasakan betapa melasnya anak ini, dia hanya bisa melihat dan gak tau apa yang harus dia fikirkan dan rasakan. Mungkin sekarang rehan masih enak bermain dan tidak merasakan tapi gak tau apa yang iya rasakan setlah iya meranjak dewasa. Singkat cerita Hari ini rehan sudah tumbuh besar dan sekrang dia udah masuk kelas 1 Madrasah Ibtidaiyah Nurul Hasan Kertosono-Kletek.

Dan yang kedua adalah gadis kecil mungil dan sangat cerewet dan suka minta Bis (Bis adalah uang menurutnya) iya Jannah Namanya iya puti dari pasangan Lutfiana Dan Bapak .........(heheh mohon maaf bro nama bapak sengaja saya Skiip karena itu adalah nama  bapak saya, sengaja menjaga kode etik dan jurnalistik dari sipenulis). Iya dia adalah adek ku, adek kesayangan ku. Jannah sejak kecilnya memang sudah terlahir begitu cantik dan sangat cerdas, dimana tidak, temen sebayanya yang dilahirkan sama dengannya, akan tetapi si jannah udah bisa rangkak duluan dan jalan duluan. Akan tetapi menginjak umur 1 tahun musibah menimpa kami, lagi lagi hati ini terpukul dan tidak menyangka. Allah sayang kepada kami dan Allah sayang kepada keluarga kami. Ibu kami dipanggil sama Allah pada saat itu tepatnya pertengahan bulan Romadhan ibu wafat. Sungguh kami menangasi atas kepergiannya, dan yang tak kalah menyedihkan ketika itu jannah digendong sama bapak tepat diatas pemakamannya didesa Kedung Sumur.

Kali ini jannah berbeda dari kisah kejadian si Rehan Masnya, dimana si jannah sadar dan sangat menagis histeris se akan-akan dia mengerti bahwa ibu telah meninggalkan dia selama-lamanya. Saya langsung ambil jannah dari pangkuan bapak, lalu saya tenagkan adek sayua peluk erat-erat dia dengan lantunan dzikir dan sholawat. Singkat cerita jannah sekrang sudah sekolah di TK B Senyum Bunda.

Sungguh sangat menyentuh hati kisah dari mereka berdua yang mana sejak kecilnya dia sudah merasakan betapa gak enaknya di tinggal orang tua mereka sendiri. Maka dari itu jika ibu dan bapak kita masih ada dirumah segeralah minta maaf kepadanya, Sayangi mereka, berbaktilah kepada mereka sebelum Allah lebih sayang kepadanya. So sejatinya sejelek-jelek apa pun orang tua kita, itu tetap adalah orang tua kita. Petapah kita begitu istilah orang madura dalam memulyakan orang tua.  Percuma lho kita baik-baik dan sopan terhadap orang lain,  bersifat begitu ramah diluar akan tetapi didepan orang tua kita dihardik. Masya Allah.

Allah sangat murka. Meski kami sadar si penulis ini bukanlah orang yang suci akan tetapi apa salahnya kita ngambil manfaat dari apa yang ia keluarkan.

“Ambilah Manfaatnya Meski itu keluar dari lubang belakanganya Ayam. Uwai Al Qurni”.

Oleh : Ahmad Al Imron




Senin, 22 Juli 2019

Tuhan Itu Maha Kikir?



Image seorang guru ngaji menyisihkan gaji untuk ibu-ibu yang kurang mampu
Oh iya sebelumnya saya ucapkan terimaksih kepada anda, iya anda. lho kenapa! Kenapa harus tolah toleh. Husst slow aja gak usah sentuh tombol beranda, iya itu tombol beranda udah diemin aja ok.hihihihihih. gak usah kemana-mana dulu baca sampai selesai lalu komen dan ikuti bloger ini, yang mengikuti tak doakan semoga rezeki anda dimudahkan Oleh-Nya. Amin

Iya benar apa yang kalian prasangkakan kepada saya, kenapa tulisan ini kog kayak mainstream ya? Kog judulnya gini sih, jangan ini penulis penista tuhan ini, eeh jangan-jangan ini masih satu susuan sama Ahok?  Ntar didemo sama pasukan 212 ?  ehhh kenpa kalian kog mikirnya sampai jauh gitu ya?
Tulisan ini emanga saya tulis ulang dari salah satu tokoh inspirtaif saya, beliau adalah “IPPHO SANTOSA”  beliau adalah penulis handal atau lebih dikenal dengan pakar otak kanan dan juga penulis buku Mega-Bestseller.

Jadi gini teman-teman ada salah seorang senior sekaligus sahabat pak Ippho bersedekah 10 juta setiap harinya. Dan ada juga sahabatnya yang tiap harinya bersedekah 2 miliar setiap bulanya. Setiap artis rutin bersedekah 75% dari pendapatan bersihnya.  Dengerin yang kayak beginia, pasti orang yang bermental miskin langsung berseru dalam hatinya kali yak, “bagaimna caranya ya, supaya bisa dapat sedekah kayak begitu dan sebesar seperti itu?” sebaliknya orang yang bermental kaya, Insya Allah si Penulis dan kalian semua (Amin gitu rah, ini doa lho rek) pasti dalam hatinya juga berseru “ Gimana caranya ya, saya bisa bersedekah sebesar itu?” lah sekrang pertanyaannya Kalian termasuk yang mana nih ? menurut saya, lebih baik bersedekah daripada disedekahi.

Setiap kali pak Ippho dalam seminarnya dan keseharianya mengajak untuk bersedekah jor-joran, orang kiri selalu punya segerobak alasan untuk menyelamatkan dompetnya. Barangkali orang kiri ini menganggap Tuhan Itu Maha Kikir, Maha Miskin dan Maha pikun, sehingga menurutnya Ngaco Tuh! Karena jelas-jelas Tuhan itu Maha kaya, Maha Pemurah dan Maha Membalas.

Terus gimana dengan orang-orang kanan? Ternyata mereka punya segudang alasan untuk memperbesar sedekah, menyegerakan untuk bersedekah. Yah minimal 10 persen dari pendapatan mereka. Dan itupun mereka terus tingkatkan. Yah, walaupun sebenarnya mereka tidak terlalu mampu untuk itu. Kurang rasional memang, akan tetapi itu nyata buktinya, cobak aja jika kalian termasuk golongan otak kanan.
Oleh : Ahmad Al Imron



Minggu, 07 Juli 2019

Belajar dari mangkok


Cerita ini saya ambil dari salah satu buku Saham Pemenang

Ketika saya masih kecil, sanagat egois dan selalu memngambil yang terbaik untuk diri sendiri. Perlahan , semakin banyak orang yang menjauhi saya. Saya tidak pernah berpikir jika itu salah akan tetapi mengkritik dan menyalahkan orang lain.

Ayah memberi saya tiga nasehat, memilih mie untuk membantu saya agar bijak menjalani hidup.
Suatu hari ayah saya memasak 2 mangkuk mie dan meletakan dua mangkuk mie diatas meja. Satu mangkuk hadir dengan satu telur dibagian dan mangkuk lainnya tidak memiliki telur diatasnya.

Ayah berkata, “anakku. Silahkan kamu pilih, magkuk mana yang kamu inginkan”. Telur sangat sulit didapat pada saat itu! So, saking dari sulitny jika mau makan telur hanya ketika ada festifal dan tahun baru saja. Tentu pada saat itu saya lebih memilih mankuk dan telur! Saat kami mulai makan. Saya mengucapkan selamat kepada diri saya sendiri atas pilihan yang bijak untuk memakan telur tersebut. Lalu saya terkejut ketika ayah memakan mie pada saat itu, ternyata ada dua telur dibawah mangkuknya yang tersembunyi dibagian bawah mie, dan seketika saya menyesal dan memarahi diri ku sendiri karena terburu-buru dalam memngambil sebuah keputusan, ayah tersenyum dan merasa iba terhdfap say, “Anak Ku. Kamu harus ingat apa yang dilihat mata anda mungkin tidak benar. Jika kamu berniat untuk mengambil sebuah keuntungan dari orang-orang sekitarnya kamu, kamu akan berahir dengan kekalahan”.

keesokan harinya, ayah kembali memasak dua mangkok mie, satu mangkuk dengan telur diatasnya dan mangkuk lainya tanpa telur diatasnya. sekali lagi dia meletakan dua mangkok diatas meja lalu berkata kepada saya. “ anak ku, silahkan kau pilih mangkuk mana yang kamu sukai?. kali ini saya lebih pintar memilih mangkuk yang gak ada telur diatasnya, yang sangat mengejutkan, saat saya memisahkan mie diatas, tidak ada satu telur diatas dasar mangkuk! sekali lagi ayah tersenyum dan berkata kepada saya “ Anak ku kamu tidak harus bergantung pada suatu pengalaman karena kadang-kadang pengalaman dapat mengecohmu atau bahkan menipu kamu. tapi kamu tidak usah terlalu sedih bahkan menyesalinya, justru perlu perlakuan hal ini sebagai pengkayaan wawasan yang didapat dari proses pembelajaranmu. kamu tidak akan mendapatkan pelajaran semacam ini dari buku teks atau bangku kuliah.

Hari ketiga, ayah lagi memasak 2 mangkuk mie lagi, lagi satu mangkuk dengan telur diatasnya dan mangkuk lainya tanpa telur diatasnya. dia meletakan 2 mangkuk diatas meja dan kembali berkata kepada saya, “Anakku silahkan kamu pilih. mangkuk mana yang kamu suka?”. kali ini aku memberi tahu ayahku, “Ayah, kamu pilih dulu. ayahb adalah kepala keluarga dan betrkontribusi paling banyak kepoada keluarga.” ayah tidak menolak dan memilih mangkuk dengan satu telur diatasnya. dan saya saat makan semangkuk mie di hati berkata pasti tidak ada telur diatas mangkuk mie saya, akan tetapi yang mengejutkan ternyata ada dua telur diatas dasar mangkuk yang saya pilih.

ayah saya tersenyum kepada saya dengan cinta dimatanya, “Anak ku, kamu harus ingat. ketika kamu berpikir unt uk kebaikan orang lain, hal-hal baik akan selalu terjadi pada diri mu.
maka dari itu hal yang  bisa dapat saya ambil dari cerita ini adalah 3 nasehat “memilih mie”.

Oleh : Ahmad Al Imron

Rabu, 03 Juli 2019

Kita Tidak Pernah Gagal


Pengusaha Muda Probolinggo yang terhimpun dalam Wadah HIPMI
Oke temen-temen tidak ada kata gagal dalam sebuah perjuangan entah itu dakwah, karir maupun pengusaha, lihat saja Nabi Kita tidak pernah merasa gagal tidak pernah mengeluh dalam memperjuangkan agama islam yang sekrag kita bisa menikmati bersama-sama betapa nikmatnya islam.

Atau perhatikan disekitar kita contohnya Warran Buffet, Bill Gates, Jack Ma, Mark  Zukeberg, Robbet T Kiyosaki, Sandi Aga Uno, Erick Tohir, Merry Riana, Susi Binsar Panjaitan, Nadima Kariem, Ahmad Zaky, Atta Halilintar dan lain sebagainya, heheh mohon maaf ya temen-temen mereka semua tokoh yang saya sukai.

Merek semua pernah gagal, mereka pernah jatuh, tapi mereka tidak pernah mengeluh, bahkan gagal 7 kali dan bangkit 10 kali.

Statemen ini saya dapat dari salah setu temen saya, ya meski temen saya itu agak lumayan dipertanyakan sih, eeh tapi gpp seperti pesanya Uwais Al Qurni “Ambila Manfaat meski itu keluar dari sebuah lubang kotoran ayam”.

Dan soal resiko inilah pesan dari seorang Chairul Tanjung
1.      Jangan pernah takut untuk mengambil suatu resiko
2.      Jika berhasil maka kamu akan bahagia
3.      Jika gagal maka anda akan lebih bahagia

Menurut saya sih sukse dan gagal merupakan satu paket . ya bener itu satu paket. Daripada kita menyebutkan itu sebuah kegagalan lebih baik menyebuatnya sebuah tantangan dan pembelajaran. Sebutan ini adalah nyatanya yang lebih memberdayakan.

Nabi-nabi saja pernah gagal kog. Cobak deh flasback sejarahnya lagi, tidak sedikit nabi yang terusir dari sebuah kota kelahiranya. Dirinya dan dakwahnya tidak diterima. Nabi aja gagalnya seperti itu, apalgi kita toh bro, masih pantaskah kita mengeluh?

Putus asa, bolehkah? Nabi ibrahim pernah menyebutkan bahwasanya putus asa adalah sebuah kesesatan. Intinya kata kata nabi ibrahim ini tertulis disbuah al kitanb, ya intinya gagal boleh, putus asa jangan lah.

Sejatinya bagi mereka yang bermental sebagai pemenang, kegagalan adalah sebagai “Ruang Belajar’. Siapa sih yang mau gagal? Gak ada kan, akan tetapi jika sudah terjadi dan tidak dapat dihindari  ya sudahlah, lebih baik kita terima saja. Lalu perbaiki dan terus belajar.

Oleh : Ahmad Al Imron

Selasa, 21 Mei 2019

Kita Orang Indonesia Munafik?


Halo sahabat,

Pasti temen-temen bingung dengan tulisan yang menyudutkan kita semua, ya saya katakan Kita ini sebagai manusia indonesia rata-rata Munafik Semua, entah itu dielemen penguasa tingkat atas, bawah dan segala birokrasi birokrasi pemerintah maupun swasta semuanya munafik, bahkan tingkat organisasi kampus aja yang masih memegang kekuasan secuil aja sudah bermuka dua, Dasar Manusia Munafik?

Maka dari itu saya pernah membaca buku dari salah satu ilmuan pribumi, sebut saja Mochtar Lubis dalam bukunya (BUMI MANUSIA). Kita sebagai manusia indonesia yang sangat menonjol adalah sifat Hiprokritis alias bahasa Trennya adalah munafik! Iya saya membenarkan jika saya Munafik, lebih lebih anda, udah munafik tapi tidak mengakuinya. Berpura-pura, pencitraan dimana-mana, lain dimuka lain dibelakang.

Oke sobat, kita semua tahu bahwa kita sangat mengutuk keras yang namanya korupsi, tetapi kita terus saja melakukan korupsi dan hari kehari semakin bertambah bahkan tidak terbendung lagi. Ya kalian semua pasti belum bisa Move One dari salah satu petinggi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yaitu Gus Romy atau Romahurmuzy, ya dia adalah salah satu tokoh sentral indonesia dia sangat dekat dengan Presiden RI akan tetapi anehnya dia bisa-bisanya jual beli jabatan di Kementrian Agama, bayangkan gimana tidak bermuka duanya dia, yang mana dia jika berdebat di media maenstrem dia selalu membawa nama santri dalam memperkuat argumennya, akan tetapi faktnya dia tertangkap juga.

Akan tetapi kalian jangan tanya masalah kemunafikan didaerah saya, iya kabupaten Probolinggo, pasti jika ada orang probolinggo yang membaca tulisan ini mengetahui apa yang telah terjadi ditanah kelahiran kita semua ini, yang mana orang orang elitnya lebih banyak bermuka dua mulai dari Wakil Rakyat, Bupati, Kades bahkan perangkat desa sendiri. akan tetapi saya tidak terlalu panjang, so saya sadar mungkin tulisan ini hanya sekedar tulisan debu saja yang tidak punya kekuatan apa-apa? Dan kita semua tahu bukan, bahwa hukum dinegeri ini berlaku sama terhadap semua orang. Prakteknya, tidak demikian, tidak sama sekali, dapat saya simpulkan hukum kita “Yang Kuat Akan Benar,Sedangkan Yang Benar Akan Kalah Tanpa Kekuatan” ya kita gak usah kemana-kemana contoh kecilnya didesa-desa siapa yang kuat dan lebih dekat dengan penguasa (yang katanya tokoh sentral lho #HAD) maka dia akan menang dan  yang benar akan terlengser. (hahahahah Lucunya negeri ku ini). Dasar Penguasa Munafik.

Saking dari lucunya elemen terkecil aja seperti halnya Lembaga-lembaga tingkat pendidikan tinggi seperti kampus, organisasi kampus. masih aja oknom-oknom menjual lembagnya demi kemunafikan dari seorang penguasanya. Pencitraan dimana-dimana , ngomong sekapur sirih yang penuh meyakinkan tanpa pembuktian, seakan-akan dia mendewakan dirinya kepada orang lain, padahal kerjanya gak ada.

Eeehhhh,,, Pasti penasaran kan gimana kelanjutan dari tulisan ini, oke tetep ikuti dan pantau terus blog ini.

Kita berjumpa di Manusia Munafik Part 2.

Oleh :Ahmad Al Imron



Jumat, 12 April 2019

Kami Besar Karna Organisasi, Bukan Organisasi Besar Karna Kami

Kebersamaan DEMA FEBI

Heys sobat,

Kali ini saya akan menuliskan sebuah cerita dari keluarga  kedua setelah rumah, so sebenarnya ini adalah sebuah organisasi yang kami masuki dan kami bina bersama selama satu tahun kepengurusan kedepanya, ya seperti yang kalian rasakan selama ini dalam sebuah keluarga pasti ada manis dan juga pahitnya, sesekali pun itu adalah keluarga orang kaya, keluarga raja bahakan keluarga seorang penguasa.

Sama halnya dengan sebuah oraganisasi, yaa sebut saja adalah Dewan Ekskutif Mahasiswa Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Islam (DEMA FEBI), tapi mohon maaf temen-temen saya tidak akan menceritakan lebih jauh terhadap organisasinya melainkan proses bagaimana menjaga dan memajukan sebuah organisasi tersebut bersama-sama, so jika  berbicara masalah organisasinya apalah daya, saya bukan siapa-siapa didalamnya, yang pantas adalah temen-teman disekitar saya, karena merekalah yang sangat hebat.

Heheh kog jadi curhat gini ya, mohon maaf penulisnya mudah baper nih.....!

Jadi gini temen-temen tak kiaskan dengan sebuah jalan dikampung, perkotaan dan sebagainya. jika seandainya jalan tersebut hanya berupa jalan yang lurus tanpa belokan, jalan yang mulus tanpa lubang, mesti yang dirasakan pengumidi adalah kurang tertantang dan selalu merasa nyaman dalam zonanya, al hasil apa yang terjadi?. bengkel sepi, jalanan penuh dengan kebut-kebutan, nenek-nenek gak bisa nyebrang dsb (iya itu persepsinya,heheh agak bodoh yak?).

Lah sama temen-teman dalam sebuah organisasi juga demikian, jika organisasi itu berjalan lurus tanpa ada tantangan, tanpa ada hadangan, pasti organisasi itu akan stagnan, kenapa? Karena saya sangat meyakini orang-orang didalamnya pasti merasakan kenyamanan tanpa ada beban dan kewajiban untuk memajukanya.

Lah maka dari situlah kami bersama-sama membangun karakter SDM didalam sebuah oragnisasi tersebut, SDM yang menjadi Prioritas kami, bukan organisasinya, so tujuan organisasi yang sebenarnya merubah orang yang gak baik menjadi baik setalah masuk oragnisasi, merubah orang pesimis menjadi optimis itulah organisasi. Itulah sebenarnya yang tidak dipahami oleh sebagian dari diri kita (Termasuk Penulis) maka tidak jarang disebuah organisasi yang dilantik dan disumpah dengan kitab suci Al-Qur’an berpuluh-puluh orang dan yang bekerja hanya 5 bahkan 3 orang.

Maka dari situlah kekompakan serta kepemilikan dan loyalitas terhadap organisasi akan tumbuh. Al Hasil meski banyak hambatan, banyak masalah pasti orang-oraang yang ada didalamnya sudah kuat dan kokoh demi sebuah tujuan organisasi tersebut.

menurut saya dalam sebuah organisasi layakanya kita akan diajarkan keindonesian yang sebenarnya, kenapa ? karna dalam sebuah organisasi kita akan diahadapkan dengan sebuah perbedaan satu sama lainya, ada yang berwatak A,B,C dsb. Pasti itu sudah lumrah dalam organisasi, akan tetapi kita gak usah takut, justru dari perbedaan dari watak sifat dan lain halnya akan menyatukan kita dalam sebuah tujuan.

Heheheh Gitu aja ya temen-temen Insyaallah Kita Kan Nyambug Ke Part 2.

Oleh : Ahmad Al Imron

Selasa, 09 April 2019

Ayok Berdagang Buanglah Mental Pegawai!



Bob Sadino (Ceo PT. Kemfood) telur intrepreneur 

Ketika kemakmuran sudah didepan mata
 ”Dan kami turunkan besi, yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia (QS. 57:25)”.

Dari sini saya akan mengutip sebuah majalah The Economict yang pernah saya baca, so sejauh ini kita indonesia diakui sebagai penghasil gas alam terbesar di dunia, karet terbesar kedua dan pengahasil minyak sawit terbesar di dunia, lantas mengapa kita sampai saat ini tidak makmur?.

Maka dari itu ada sebuah kiasan nih temen-temen, konon pemimpin thailan bertanaya kepada malaikat, “kapan negeri ku akan makmur nih malaikat?” kemudian malaikat itu menjawab 30 tahun lagi. Sepintas pemimpin thailand langsung menangis tersedu-sedu.

Lanjut kemudian pemimpin Vietnam menanayakansebuah pertanyaan yang serupa, dan jawabanya pun sama “yaitu 30 tahun lagi negara mu akan makmur”. Al hasil mereka berdua menangis tersedu-sedu.

Oke temen-temen yang terahir adalah kita, iya kita Indonesia, dan pertanyaan pun sanagat serupa. “wahai malaikat kapankah negeri ku ini akan makmur?” dan langsung seketika itu malaikat yang menangis tersedu-sedu.

Heheh, ya begitulah candaanya temen-temen, sungguh saya sangat mencintai negeri ini. Dan saya sangat percaya negeri ini akan makmur , jika minimal 2 persen masyarakatnya menguasai simpul perdagangan. Sayangnya sekarang masih 0,81%.

Lebih mirisnya  simpul perdagangan hampir tidak pernah sama sekali diajarkan dibangku sekolah. Yang sangat dihargai adalah Indeks Prestasi Komulatif (IPK) . padahal toh didunia nyatanya yang sangat dihargai adalah Pendapatan Komulatif.

So lama-lama, sekolah dan dunia nyata layaknya dua orang yang bukan muhrim! Tidak bisa bersentuhan! Dan pada ahirnya, setiap tahun hampir sejuta lulusan perguruan tinggi luntang lanting menggangur gak dapet pekerjaan yang mereka impikan. Sebabnya, bisa saya tebak yang ada difikiran mereka cuman kepikir bagaimana caranya mencari simpul pekerjaan, boro-boro mereka memikirkan simpul perdagangan, Gitu kan temen-temen?.

By The Way, kesimpulan nih, anda semua mungkin tidak suka dengan bangsa yahudi, namun demikian tidak ada salahnya bukan jika kita sedikit belajar dari mereka. Sejumlah kampus di israel mengahruskan mahasiswanya tepatnya dari fakultas ekonomi dan kebetulan saya singgung Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam INZAH-Genggong  jika itu dikampus kami. Kemabali lagi di kampus israel yaitu menggarap suatu proyek sebagai tugas ahir perkulihannya. Bekerja berkelompok, per Team, mereka hanya bisa lulus jika proyeknya sudah bisa mendapatkan income Satu Juta Dolar atau sekitaran Rp 9 Miliar, ahha ini lho baru namanya IPK yang dikerjar Indeks Prestasi Komulatif. Lah jika senadinya dikampus kami gtu ya? Pasti saya yakin simpul perdagangan akan dikuasai oleh pribumi asli probolinggo bukan chines, moro-moro kayak gtu ya, lah owg Skripsi aja gak kelar-kelar ya? Hihihi.

Sory tulisan ini kami buat lantaran bukan mau menyinggung pembaca yang budiman, lebih tepatnya tulisan ini snegaja kami buat lantaran untuk memotivasi diri sendiri saja.
Thank You.

Oleh : Ahmad Al Imron (Ippho ‘Right’ Santoso)


Kecerdesan Berkomunikasi Itu Penting

Diskusi Panel Bersama HIPMI PT INZAH

Gini temen-temen kenapa  judul ini ditulis, karena yang saya rasakan selama ini dalam sebuah perjalanan selama jangka 2 tahun terahir ini. So yang saya rasakan kecerdesaan bukan hal yang utama akan tetapi membangun komunikasi (link) jauh lebih prioritas ketimbang sebuah kecerdasan.

So dalam kesimpulannya, siapapun dan apapun kita serta profesi yang kita jalani  kebutuhan akan komunikasi yang baik merupakan sebuah hal yang sangat urgen.

Bukan berarti kecerdesan berfikir tidak penting, soalnya dengan kemampuan berpikir mampu menggagas ide kreatif dan cemerlang atau mencari sebuah solusi untuk mengatasi dan keluar dari masalah bukan suatu hal yang mudah.

Misalkan nih tak contohkan dengan seorang guru yang mengajar sebuah bidang ilmu, tapi dia tidak mampu mengkomunikasikanya dengan baik, besar kemungkinan pasti disitu akan ada gap kemengertian antara dirinya dengan para muridnya toh. Al hasil mungkin saja dia cerdas tapi tidak mampu mencerdaskan muridnya.

Maka dari itu temen-temen kemampuan berkomunikasi sangat bisa ditingkatkan dengan sering bertemu, berkumpul serta berbicara dengan orang lain. Perluas wawasan dengan cara membaca, mendengar dan melihat. Orang yang wawasannya sangat luas punya banyak bahan untuk dia bisa menceritakan atau menjelaskan sesuatu atau ide sehingga dia mampu berbicara banyak dan lama sedetail mengkin. Ibarat memasak dan kita yang memasak , semakin banyak macam bahan baku dan alat masaknya yang tersedia, kita mampu memaksanya menjadi berbagai macam rasa dan bentuknya.

Sehebat apapun ide atau gagasan, sepinter dan secerdas apapun seseorang, jika tidak mampu berkomunikasi serta mengkomunikasinya dengan baik, maka ide tinggal ide, kepintaran serta kecerdasan tidak bisa memintarkan dan mencerdaskan orang lain. Bekerjasama dengan banyak orang pun bisa jadi sulit.

Oleh : Ahmad Al Imron

Minggu, 07 April 2019

Alam tidak Pernah Bertanya Tentang Siapa Kita

image Bromo sunset

Heys sobat,

Oke temen-temen kali ini saya akan menuliskan sebuah kisah yang agak nyentrik, dimana kali ini judulnya tentang sebuah pijakan kita yang selama ini kita temlati siang dan malam.
Oke sobat langsung aja ya.

Alam tidak pernah bertanya seberapa tinggi pendidikanmu, berapa besar penghasailanmu, apa status serta jabatanmu, ini lho alam.

Alam tidak pernah mempertnayakan apa warna kulitmu, apa nama bangsa mu serta agama dan ras mu.

Alam sangat peduli pada semua makhluk dan kehidupan, alam ini menghidupi semua ras etnis dan bangsa, alam yang begitu besar saja bisa mentoleril semua perbedaan, maka dari itu perbedaan itu menyatukan. Mengapa kita yang kecil dan lemah ini menjadi saling mendeskriminasi ?

Begitulah pesan singkat  dari sijenaka ku malam ini untuk ku, matur sembah nuhun. Berkah dalem.

Oleh : Ahmad Al imron

Sabtu, 23 Maret 2019

Sulit Dinegeri Sendiri


Indonesia adalah negara dengan jumlah penduduk terbesar no 4 didunia bahkan bisa dikatakan adlah negara terkaya sedunia (Versi Ku sih..) bagaimana tidak mulai dari destinasinya, kekayaan bumi serta lembah-lembah yang begitu indah parasnya.

Heyy pemerintah yang berdaulat katanya, hey kamu jaga sok berkuasa, seakan-akan kamu lupa itu hanya titipan? Yang saya lihat Indonesia adalah negeri surge negeri termashur seluruh penjuru dunia  apalagi dengan suatu kultur yang ada pada masyarakatnya.

Akan tetapi hari ini semua berubah, masyarakat yang awalnya cerdas, religus dan tidak mudah dipecah belah tapi hari ini berbanding balik, masyarakat kita selalu dibodoh-bodohi oleh elit-elit pemerintahan dengan sejuta rayuaanya,. Hey pemerintah jangan buat gaduh rakyat, jangan persulit rakyat. Ini negara lho bukan penjara.

Maaf temen-teman tulisan ini adalah sebuah tuaian yang didalam diri saya pribadi terhadap negeri ini, bagaimana tidak kita rakyat kecil seakan-akan  dijajah oleh rumah sendiri, buat ini susah buat itu susah smapai buat KTP yang menjadi identitas kita sendri susah,, ini negara kan ?
Saya sedikit bertanya, apakah ini negara sendiri apa tetangga sih? Begitu sulit banget menjadi bagian resmi didalamnya gara gara buta akan kekuasaan yang dikejar hanyalah uang, saat ditanya dan minta kejelasan hanya ngomong “JANGAN GANGGU OTORITER SAYA” Jika tidak maka kau akan aku lempar kepelosok desa. Kejamnya penguasa hari ini.

So sebenernya kita sudah merdeka tidak ya? Penjajah itu bgelnda dan jepang kan, bukan pemerintahan ya? Kog kayaknya lebih kejamnya ya?

“dasar kamu yang suka menjual janji kepada kami, ingat kami tidak bodoh aka nada masanya kau akan tumbang wahai sang poenguasa”.

Oleh : Ahmad Al Imron

Semangat Yang Luntur



Oke selamat malam para pembaca yang budiman, eeh kali ini saya akan menyajikan suatu tulisan yang menurut kalian sih anggapanya, ngapain sih kog  nulis-nulis kayak bahkan dishare lagi, ngabisini kouta aja yak? so kali ini saya akan menulis sebuah cerita yang mungkin gak penting lah…

Disini aku akan bicara tentang semngat ku, Oke alam berbicara dengan ku mengatakan bahwa dia sangat butuh dengan juang ku serta keringat ku. Iya itu adalah juang q dan keringat yang selalu aku kibarkan dalam sejuta proses ku yaitu suatu proses yang bisa menggebrak suatu perubahan dan keadaan akan tetapi semnagat itu hilang begitu aja.

Iya seperti yang saya rasakan hari ini smenagat itu tumbang tiba-tiba tanpa meninggalkan suatu jejak dalam diri ini, kadang aku merasa aneh dalam diri ini, mengapa  tidak. Kadang semnagat itu tumbuh dan berkembang dalam diri ini dan gak mau pergi So I Am Be happy. Tapi kadang hilang tanpa jejak, entah apa diri ini memang tidak bisa menampung semngat juang ini ataukah semnagt itu minder dalam tubuh ini yang selalu melakukan suatu kekhilafan yang kadang selalu menghantui.

Aku pun merasa bagaimana saya bisa mencuri perhatian dunia jika aku tidak bisa mencuri perhtian dunia dengan segala prestasi dan percaya diri ini untuknya. So hanya kata semngat Fighting istiqamah yang bisa melebur semua keresahan ini. Akan tetapi hari ini semgat itu hilang, semnagat itu luntur seakan-akan terbabawa oleh guyuran kedustaan, entah saya tidak yakin semngat itu akan kembali atau bahkan pergi dan tidak akan pernah kembali atau kembali dengan semnagat yang berbeda, akan tetapi hal yang paling aku kejar iyalah semnagat dengan segala usaha demi mencapai suatu cita-cita yang sangat bergengsi.

Oleh : Ahmad Al Imron

Minggu, 17 Maret 2019

Berlomba Dengan Orang Baik Atau Orang Pendosa Untuk Beristigfar


Apa yang dikatakan oleh Ust. Adi Hidayat ini sangat JLEBB banget. Pingin mewek pilihan hanya dua itu. Yaitu lomba dengan orang-orang baik atau berlomba dengan orang-orang pendosa. Duh..gusti.

Ingin rasanya semua waktu dihabiskan hanya untuk beribadah, ingin rasanya setiap detik ku adalah dzikir, ingin rasanya rasanya setiap desahan nafas adalah dalam rangka mengingat-Nya, ingin rasanya setiap langkah adalah catatan amalan baik dan ingin rasanya setiap lirikan mata adalah doa untuk-Nya.

Setiap gerakan tangan adalah dzikir untuk ahirat dan setiap detakan jantung adalah detakan menyebut asma-Nya.

Namun sering kali dengan penyakit yang bernama “SOK IYA”.
So, sok ya? Setiap kali kita berbicara “nulislah untuk hal kebaikan”, tapi akan tetapi hati merasa jumawa karena keujuban

Sok iya? Tombol-tombol laptop yang kita tekan berasa untuk pesan mendatang, padahal tidak lain dan tidak bukan hanya untuk narsis-narsisan, ini lho gue penulis, padahal hanya seorang penulis karbitan.

Sok iya? Ide-ide yang kita punyai adalah sebuah ide yang berasal dari diri kita sendiri, padahal secara tidak sadar ide itu datang dari-Nya akan tetapi kita tidak menyadari bahkan melupakannya (sombong ya).

Baliklah ke hati yang terdalam

Nulislah karena kita tahu kita sangat bodoh
Nulislah karena kita tahu kita lemah
Nulislah karena kita tahu kita butuh untuk bermuhasabah
Nulislah karena kita tahu hidup kita butuh terarah
Nulislah karena kita tahu berada agar hati tidak resah
Maka nulislah “dengan satu tujuan, agar Allah ridho dengan Kita”
Sekian
Oleh : Ahmad Al Imron


Kamis, 14 Maret 2019

Indonesia Semakin Optimis



Temen-teman saya semakin hari kog semkin optimis dengan indona. kali ini tulisanya saya akan membahas tentang data-data yang akurat . so gini temen-temen cobak deh simak data dari Bloombreg ini,. Kontribusi indonesia untuk pertumbuhan ekonomi dunia adalah terbesar nomer 4 tahun 2018-2019, lalu  presentase kontribusi akan meningkatkan lagi tahun 2022-2023. Sebaliknya, kontribusi amerika, jepang, jerman, rusia, prancis, mesir, inggris dll justru akan anjlok.

Namun, harapan saya kontribusi indonesia  2022-2023 bahkan bisa lebih besar lagi. Kenapa sya sangat optimis & berharap demikian? Sungguh sangat sederhana kawan.

Pertama, tahun 2020-2024 adalah suatu periode bonus Demografi paling tinggi, usia produktif mencapai 174-180njuta orang. Bila kita berhasil mengoptimalkan pembangunan dan daya saing kita (pembangunan manusia), pasti produktivitas kita akan menjadi loncatan sejarah buat kita dan indonesia.

Kedua adalah pembangunan infrastruktur yang secara masif dibangun sejak 2015 hingga kini, dampat optimalnya yang bisa kita rasakan paling tidak pada tahun 2020. Optimalisasi pemakain infrastruktur pasti ada lag-nya (jeda), butuh jangka waktu 5 tahun yang bisa mulai dampaknya.

Manusia produktif dan infrastruktur yang baik, lalu ditambah kelembagaan yang sangat cakap serta kebijakan & strategi yang sangat tepat, jelas ini akan menjadi role model kemajuan bangsa kita. Tentu saja ini harus disertai pembangunan yang iklusif , serta kemerataan.

So temen-teman yang membaca tulisan ini, kalian boleh menyiakapi pernyataan yan g saya tulis ini, kami butuh kritik serta saran. Al Right?

Oleh : Ahmad Al Imron

Ngeri! Perang Rusia-ukraina Negative Vibes buat emak-emak

Ngeri! berwaspada lah! Ini dia dampak dari perang Rusia-ukraina Operasi militer Rusia ke Ukraina akhirnya telah menjadi kenyataa...