Oleh : Ahmad Al Imron.
Mungkin ini hanya pertanyaan yang cukup sederhana, yaps, sederhana
cara orang untuk berpikir untuk mengungkapkannya. Bahkan untuk menjawabnya pun
tidak lah terlalu rumit Jika kita melihat masalalu yang terjadi fakta
dilapangan, bagaimana keganasan atau peristiwa G30S/PKI yang terjadi dinegeri
Pancasila ini.
Disini kami akan mengulas kembali dan menceritakan ualang bagaimana
kejadian bulan Oktober 1945, ketika pada saat itu kelompok pemuda PKI yang
membantai pemerintahan Kota Tegal Jawa Tengah, menguliti serta membunuh Bupati
dan Pimpinan lainnya, bahkan tidak berhenti disitu saja, mereka menghinakan
keluarganya, dan juga melucuti pakaian kardinah yang merupakan istri dari
bupati serta adik kandung dari pejuang perempuan RA Kartini yang diarak-arak
dengan mengenakan karung goni (Karung Beras).
Betapa pada saat itu rakyat melawan penjajah, ketika pada saat itu
arek-arek suroboyo merobek bendera merah putih biru dihotel yamato, lalu
bertarung mati-matian melwan sekutu pada 10 november yang dipimpin oleh Bung
Tomo.Namun dibelahan bumi Indonesia lainnya turut berdarah-darah dalam
pertempuran lima hari disemarang,membredeli tentara jepang, PKI justru merusak
tatanan bangsa dimana-mana dan mengrogoti dari dalam. Dilansir PKI berhasil
merebut kekuasaan dislawi, serag, pekalongan, brebes tegal, pemalang, Cirebon
dan berbagai wilayah lainnya, menghilanglkan nyawa anak bangsa dan tokoh
pejuang,bupati bahkan tokoh nasional Otto Iskandardinata diculik dan dipereksekusi
bahkan jasadnya sangat mengenaskan, sultan harkat dibunuh serta dirampas
hartanya.
Dan juga ketika kita mengigat peristiwa di Gontor (yang sekerang
terkenal dg sebutan Pondok Modern), ketika setiap pagi menjelang, satu persatu
nama Kyai di abswen dan satu-persatu pula disembeleh merata. Atau salah satu
kisah Haji Dimyati salah satu tokoh Masyumi yang sebelumnya digorok lehernya
sebelum dimasukan kedalam sumur beserta korban lainnya.
Juga tentang kapolres Ismaidi yang diseret menggunakan Jeep willis
sejauh 3 km hingga ahirnya wafat. Setelah tentara dibunuh, gentian polisi
dilibas habis-habisan. Kemudian pejabat, ulama serta santri serta pembakaran
Pesantren yang dimotori oleh Gerakan 30 Septemper (G30S/PKI).
Singkat cerita, pasca terhentinya Gerakan Komunis ditahun 1948,
pada 1965 PKI kembali beraksi. Kali ini adalah salah satu Ulama Tersohor
dinusantara, Yaitu Buya Hamka, ketua MUI pertama serta tokoh sentral lainnya
dipenjarakan. Mereka difitnah oleh PKI yang pada saat itu sangat dekat dengan pemerintah
yang berkuasa. Tak hanya menerima siksaan Tiap hari bahkan Buya Hamka
memperoleh ancaman akan diestrum kemaluannya. Ini hanya pernyataan kecil saja,
sebagai jawaban dari pernyataan diatas , karena kami yakin ini hanya cerita
serpihan kecil saja yang dapat kami tuliskan.
Tapi, mari kita renungkan bersama-sama apa yang terjadi ketika
Komunis berkuasa pada suatu negeri, terlebih indonerasia.
Di Uni Soviet, sekitara 7 juta orang tewas dalam Revolusi Belsovik
yang dipimpin oleh lenin, dimasa stalin berjumlah 20 juta orang, salah satu
cara kominis bertahan iyalah melestarikan tidak adanya perbedaan pendapat, dan
jika memang sebaliknya maka tidak bisa dihelakan mereka akan dibunuh, mari kita
fikirkan.
Di kamboja, sekitar 2 juta jiwa dibantai Habis-habisan untuk
mengukuhkan kekuasan Komunis. Di China dalam Insiden Rovolusi mencapai 80 juta
jiwa. Jadi, JIKA PKI BANGKIT DI NKRI KENAPA? Udah bisa membayangkan
bagaimana nantinya jika memang benar-benar terjadi.
Jika PKI pernah menghianati bangsa, apa jaminan mereka untuk tidak
mengulanginya? Jika sudah mempunyai sedikit kekuasaan saja mereka sudah
membantai begitu banyak Orang, padahal meraka adalah saudara kita sebangsa dan
se tanah air, maka apa jadinya jika mereka diberi kekuasaan yang sanagat besar
nantinya? Jika komonisme dididik dan dilatih tidak bisa menerima perbedaan
pendapat, lalu dimana letak kebebasannya, bukankah kita Negara Demokrasi
(Monggo berfikir secara Rasional)?.
Dan yuang perlu menajdi catatan dari peristiwa ini, janaganlah
berteriak korban. Mengutip dari Mansur Surya Negara, PKI di Indonesia bukanlah
korban, mereka itu adalah pelaku, penghianat atau sampah bangsa. Atau istilah
dalam buku yang pernah Kami baca dalam buku Gara-Gara Indonesia yang
ditulis Oleh Agung pribadi, ini saatnya rekonsilasi, kita bisa maafkan, tapi
kita jangn sampai lupakan pembantaain yang dilakukan PKI apalgi member Hak
Kekuasaan, Monggo cerdaskan Bangsa, ingatkan satu Sama lainnya atau Kata
Founding Father Indonesia Ir. Soekarno Jangan Pernah Lupakan Sejarah (Jas
Merah).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar