Minggu, 01 Juli 2018

Pemerintah Sibuk Menyiapkan Jamuan Bagi IMF di Bali, Disaat Ekonomi Diambang Krisis Yang Terindikatori Utang


Oleh : Ahmad Al Imron (Fadli Zone-Wakil Ketua DPR RI)

Terus Merosotnya nilai tukar rupiah hingga tembus angka Rp.4,404 per dolar amerika  serikat pada perdagangan jum’at siang. 29 juni 2018, harus menjadi perhatian yang sangat serius. Melihat situasi ini, kami rakyat kecil mengigatkan kepda pemerintahan dan otoritas moneter harus mencari jalan keluar yang kreatif untuk mengatasi krisis nilai tukar tersebut


Kita memang pantas khawatir, nilai tukar rupiah terus mengalami penurunan meski Bank Indonesia melakukan intervensi pasar. Kita tidak bisa terus menerus mmenguras cadangan devisa untuk menolong rupiah.

Sejak February lalu kita sudah menghabiskan US$122,9 miliar, padahal February lalu jumlahnya masih US$131,98 M. artinya, pemerintah dan otoritas menoneter segera mencari jalan keluar lain untuk mengatasi krisis nilai tukar tersebut, tidak bisa terus menerus melakukan cara konvensional untuk mengintervensi pasar.

Selain karena factor global, jebloknya nilai tukar rupiah kita ini salah satunya dipicu oleh tingginya tingkat ketergantungan kita terhadap Impor, investasi asing dan juga utang. Sehingga, setiap kali kita impor, membayar deeviden dan membayar bungadan cicilan utang, selalu terjadi tekanan terhadap nilai tukar rupiah
.
 Jumlah utang kita dalam bentuk valas ekuivalen dengan US$109,6 m. sehingga tiap kali nilai tukar rupiah terdepresiasi Rp100, maka jumlah kita akan naik lebih dari 10 Triliun. Semakin besar depresiasinya, jumlah nominal yang kita bayar juga menjadi semakin besar.

Itu baru bab utang pemerintah, belum lagi jika kita bahas mengenai utang disektor public secara keseluruhan yang mencapaui Rp.9.000 T. atau juga ingin mengikutkan jumlah hutang swasta yang mencapai Rp. 2,51,7 T pada bulan February 2018. Besar sekali resiko yang bisa kita terima akibat depresiasi nilai tukar ini. Pada saat krisis 1997/1998, kita banyak sekali kehilangan asset strategis akibat dari krisis utang negara ini.

Jadi, ditengah depreasiasi rupiah yang terjadi secara terus menerus, pemerintah tidak lagi bisa berdalih jika utang kita pada saat ini berada dilevel yang aman. Dalih itu akan membohongi diri sendiri. Apalagi jika ada yang mengatakan penyesuain Normal, mesti orang-orang itu tidak bertanggung jawab. Jika nilai tukar rupiah tembus sampai dari 14,500, udah saatnya kita akan menyambut, merefles ulang akan datangnya krisis ekonomi, malah sekrang ini bisa dikatakan awal dari krisis.

Meski indicator perekonomian tidak menunjukan gejala membaik, kita belum mendengar pemerintah menjelaskan langkah-langkah untuk mencegah terjadinya krisis ekonomi. Pemerintah malah sibuk mengurusi pesta menjamu IMF dan Bank dunia di Bali. Sungguh ironis, saat Kurs mengelucur disekitaran Rp.15 rb, dan proyeksi pertumbuhan ekonomi bisa jatuh ke angka 5%, deficit APBN menyentuh limit 3%, pemerintah malah sibuk menyiapkan jamuan bagi 15rb orang yang memboroskan anggaran hingga Rp 850 m itu. Di tengah jargon revolusi mental, sikap pemerintah semacam ini justru memperlihatkan mental seorang inlander.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ngeri! Perang Rusia-ukraina Negative Vibes buat emak-emak

Ngeri! berwaspada lah! Ini dia dampak dari perang Rusia-ukraina Operasi militer Rusia ke Ukraina akhirnya telah menjadi kenyataa...