Jumat, 27 Juli 2018

PAK JOKOWI, KEBERHASILAN PEMBANGUNAN BANGSA ITU BUKAN TERLETAK PADA JALAN TOL LHO PAK!

Sumber foto Ig @jokowi


Oleh : Ahmad Al Imron (Mahasiswa FEBI Inzah Genggong)
Sepanjang tahun 2018 pemerintahan Joko Widodo masih saja focus pada pembangunan inflastuktur, namun abai memperhatikan nasib petanji dan nelayan yang menggeluti sector primer, yaitu pertanian dan perikanan.
Nilai Tukar Petani (NTP) sepanjang tahun 2017 kami catat stagnan, NTP subsector tanaman pangan dan subsector perkebunan angkanya dibawah 100, menunjukan hasil yang diperoleh dari kedua subsector tak impas dengan biaya hidup mereka, artinya, karena dibawah titik impas , mereka masih jauh sdari kata sejahtera. Lebih parah lagi dalam satu tahun terahir angka kermiskinan semakin memburuk. Pada periode maret September 2016 hingga maret 2017, indeks kedalaman  kemiskinan dan keparahan kemiskinan tercatat mengalami kenaikan, indeks kedalaman kemiskinan pada September 2016 adalah 1,74 pada maret 2017, angkanya naik menjadi 1,83. Demikian juga dengan indeks keparahan kemiskinan naik dari semula 0,44 kemudian menjadi 0,48 ini adalah suatu keprihatinan bangsa kita.
Jika kita mengaca pada teori pembangunan, keberhasilan pembangunan di indikatori oleh tiga factor, yaitu kemiskinan, penganguran dan ketertimpangan. Jadi, ukuran keberhasilan pembangunan bukan diukur dari berapa kilometer jalan tol yang sudah dibangun, akan tetapi berapa jumlah orang miskin yang udah hidup lebih sejahtera. Meski diklaim jumlah kemiskinan berkurangpada tahun 2014 akan tetapi tidak jauh beda pada tahun 2017. Secara agregat jumlah memang berkurang sedikit, tapi itu merujuk pada kedalaman indeks kemiskinan, dalam tiga tahun ini jumlah kemiskinan bertambah semakin buruk kehidupannya, apakah ini yang disebut dengan keberhasilan ?.
Pemrintah disini harus bisa merubah haluan dari beriontasi fisik menjadi beriontasi manusia, inilah yang disebut dengan “People centred Devolepment”. Maka dari ini mungkinkah pemerintah harus memikirkan lebih panjang tentang inflastuktur yang telah dibangun. Contoh adalah dibidang kemaritiman dan perikanan. Memberangus “illegal fishing” adalah penting. Namun memberangus kemiskinan pelayan adalah salah satu hal yang bisa dikatakan sangat fardu ain bagi pemerintah. Itu menyoal tentang nelayan.
Selanjutnya dalam bidang pertanian, sepanjang tahun 2017 pemerintah belum mampu menunaikan janji-jani dan targetannya. Padahal tahun ini pemerintah manrgetkan swasembada Pajale (Padi, jagung dan kedelai)  namun spanjang januari hingga September 2017 , kita masih mengimpor beras, jagung belum lagi impor-impor illegal lainya yang biasanya sdah terjadi, bahkan kita masih impor 65% dari kebutahan kedelai nasional. Jangankan tercapai melainkan pemerintah masih merevisi targetannya. Hello apakah ini yang dikatakan sebuah keberhasilan?, masih tingginya tingkat impor pangan kita tetu saja hal ini sangat aneh dinegara kiat, karena selalu ada mentri pertanian yang selalu menyebutkan terjadinya penigkatan produksi pangan diberbagai jenis komoditas. Itu artinya, data keberhasilan yang dikalaim pemerintah masih perlu diperiksa keshahihanya.
Lebih ironisnya lagi, konflik agraris justru meningkat drastic. Selama tiga tahun terahir menurut data KPA (Konsorsium Pembaruan Agraria), terjadi sebanyak 1,361 konflik agrarian, dari jumlah tersebut, 659 konflik agrarian terjadi pada tahun 2017. Disbanding tahun 2016 , konflik agrarian pada tahun 2017 meningkat hingga 50%, semoga catatan buruk ini tidak terjadi lagi pada tahun 2018.
Sekali lagi kami sebagai mahasiswa Indonesia mengigatkan kepada pimpinan kami, bahwa keberhasilan pembangunan itu bukan terletak pada pembangunan berobu-ribu jalan tol akan tetapi keberhasilan pembangunanitu diukur dari kesejahteraan semua elemn masyarakat Indonesia khususnya Petani, Nelayan dan rakyat kecil disluruh Indonesia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ngeri! Perang Rusia-ukraina Negative Vibes buat emak-emak

Ngeri! berwaspada lah! Ini dia dampak dari perang Rusia-ukraina Operasi militer Rusia ke Ukraina akhirnya telah menjadi kenyataa...