INI REZIM APA, KOK BISA UTANG BUMN MEREMBET TERHADAP APBN
Oleh : Ahmad Al
Imron (Dr. Fadli Zon, S.s., M.sc – Wakil Ketua DPR RI)
SAYA menyoroti
persoalan melonjaknya utang BUMN hingga Rp.13.000 triliun dalam empat tahun
terahir ini. Menurut Saya, BUMN kita sedang berada diambang Krisis Utang yang
serius. Untuk meyeimbangkan neraca keungan, Sejumlah BUMN, terutama yang
bergerak dibidang energy dan inflastruktur,
terancam harus menghentikan investasi untuk lima tahun kedepan.
Satu persatu
masalah yang ditanam oleh rezim yang berkuasa saat ini mulai meletus menjadi
ancaman. Semua Ahli oposisi dari
pemerintahan sudah mengingatkan dari awal bahwa pembangunan inflastuktur yang
dilakukan saat perekonomian sedang lesu dan negara tak punya uang sangatlah berbahaya. Tapi presiden berdalih
bahwea pembangunan inflastuktur tak akan membebani APBN.
Kini kita bisa
melihat bersama-sama bahwa dalih tersebut tidaklah benar. Pada kenyataan
pembangunan tadi telah dibiayai BUMN yang resikonya pasti akan kembali lagi ke
APBN.
Sebagai gambaran
saat ini total uatang BUMN Rp. 4,825 T,
atau naik rp.1,337t dibandingkan
catatan utang tahun 2014 yang sebesar rp
3.488 t. kalau kita perhatikan data-data tentang utang Indonesia, lonjakan
utang sector public terjadi pada tahun 2014 terutama disebabkan lonjakan utang
BUMN.
Ada dua masalah
fatal yang terkait pada utang BUMN tersebut. Pertama, sebagian besar utang itu
merupakan utang jangka pendek. ini sangat berbahaya sebab situasi perekonomian
global maupun domestic, sedaang mengalami kontraksi. Kedua dari data yang telah dipublis didalam media
nasional sekitaran 60% utang berbentuk
valuta asing yang sangat rentang terhadap fluktuasi nilai tukar rupiah.
Jika nilai tukar rupiah melemah, Maka BUMN maka semakin berdarah-darah.
Meski total asset
BUMN naik menjadi Rp. 7,22 t pada ahir 2017. Dengan angkla utang Rp. 4,825 t,
rasio utang BUMN sudah mencapai 67% asset. Ini sudah lampui merah sebenarnya.
Celakanya, dalam kondisi semacam itu, kementrian BUMN masih menargetkan menambah
utang hingga Rp.5,253 t sepanjang tahun ini.
Coba kita
bayangkan, dalam tiga tahun terahir sejak tahun 2014, semua BUMN karyanya hanya
utang yang terus menaik hingga 100%,
bahkan ada yang lebih dari 600%. Ini kekeliruan kebijakan. PT Waskita
Karya Tbk misalnya, utangnya meroket hinnga 669%. Dari sudut pandang manapun
kenaikan ini tidak lah sehat dan sedang sakit.
Tidak heran,
standar & Poo’rs Global Ratings member kartu kuning kepada BUMN kita.
Neraca BUMN kita terus semaki8n memburuk sesudah terlibat dalam berbagai Proyek
inflastuktur pemerintah. BUMN, terutama yang berada disektor kelistrikan dan
konstruksi, telah mencetak utrang yang sangat besar. Hal ini telah menyebabkan
neraca perseroan jadi bernanah-nanah.
Akibat perencanaan
pemerintah yang sangat ceroboh, kita pada saat ini telah masuk pada jebakaan
utang yang sangat berbahaya. Masyarakat tidak boleh lupa, seluruh krisis
ekonomi yang terjadi selalu terkait
dengan utang. Krisis pada thun 1997-1998, misalnya, terjadi akibat akumulasi
utang yang terjadi pasca liberalisasi sector keungan pada decade 1980 an,
disebabkan ekpansi fiskal dan akumulasi utang pemerintah yang berlebihan.
Bagaimana pemerintah mengatasi Utang BUMN ini
? dengan Penyertaan Modal Negara (PMN).
Dari mana pemerintah memberikan uang terhadap PMN ? dari menambah utang
pemerintah ? ini kan yang terjadi seperti lingkaran setan, karena
ujung-ujungnya tetap kembali kepada APBN. Itu sebabnya, saat presiden dulu
mengklaim bahwa pembangunan inflastuktur tidak akan membebani APBN, sejak awal
kami mahasiswa menganggapnya semua omong kosong. Sudah jelas semua itu sudah
mengarah dan membebani terhadap APBN.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar