EKONOMI
BERDASI VERSUS EKONOMI BERNASI
Oleh : Ahmad Al
Imron & Dwi Yuniana- Iain Tulungagung (Inisiatif Dari Masayarakat Kota Kraksaan)
Masalah kemiskinan selalu memperoleh
perhatian utama di Indonesia. Hal ini terjadi karena adanya kesadaran
pemerintah bahwa kegagalan mengatasi persoalan kemiskinan akan dapat
menyebabkan munculnya berbagai persoalan sosial, ekonomi, dan politik di
tengah-tengah masyarakat. Upaya serius pemerintah untuk mengatasi kemiskinan
sudah dilakukan sejak era Orde Baru. Hasilnya, selama periode 1976-1996
(Repelita II - V), tingkat kemiskinan di Indonesia menurun secara drastis; dari
40% di awal Repelita II menjadi "hanya" 11% pada awal Repelita V
(Mubyarto,2003). Catatan gemilang tersebut tidak dapat dilepaskan dari keberhasilan
bangsa Indonesia dalam melaksanakan berbagai program pembangunan ekonomi.
Selama tiga dekade pembangunan tersebut, ekonomi Indonesia rata-rata tumbuh di
atas 7 persen tiap tahunnya. Keberhasilan Indonesia
dalam melakukan pembangunan ekonomi dan
mengurangi angka kemiskinan ini kemudian mendapat banyak pujian dari masyarakat
dunia. Misalnya Laporan World Bank (1993) yang bertajuk : "The East Asian
Miracle", yang menempatkan Indonesia menjadi salah satu macan Asia dalam
daftar "The High Performing Asian Economies (HPAEs)" sejajar dengan
Korea Selatan, Taiwan, Thailand, Malaysia, dan Singapura.
Sayangnya, tidak lama setelah World
Bank mempublikasikan laporannya, krisis ekonomi kemudian melanda Indonesia pada
pertengahan tahun 1997. Krisis ini pada awalnya hanya merupakan persoalan nilai
tukar mata uang rupiah terhadap mata uang dolar Amerika Serikat atau krisis
moneter (krismon) saja, karena dipicu oleh kejatuhan mata uang Thailand, Bath.
Tanpa diduga, krismon yang sulit dikendalikan oleh pemerintah kemudian memicu
munculnyu politik yang ditandai dengan kejatuhan regim Orde Baru. Seperti bola salju,
krisis ini kemudian membesar dan menjadi pencetus munculnya krisis-krisis yang
lain. Singkat kata, krismon kemudian berubah menjadi krisis total (kristal)
yang mencakup semua aspek kehidupan masyarakat. Hantaman badai krisis tersebut
kemudian menyebabkan Indonesia benar-benar jatuh dalam titik nadir, dari negara
yang memiliki prestasi pembangunan yang penuh keajaiban menjadi negara yang
membutuhkan keajaiban untuk dapat keluar dari krisis. Judul buku Garnaut dan
Mcleod (1998): "East Asia in Crisis: From Being a Miracle to Needing One"
kiranya sangat tepat untuk menggambarkan kondisi Indonesia tersebut.
Krisis multi dimensi tersebut menyebabkan
Indonesia sulit keluar dari krisis. ]ika negara-negara Asia Tenggara, misalnya,
Malaysia, Thailand, dan Singapura, telah berhasil memulihkan momentum
pembangunan ekonomi mereka seperti kondisi sebelum krisis, sampai saat ini,
Indonesia bahkan masih belum mampu keluar dari lilitan krisis. Sebagai
akibatnya, berbagai program anti kemiskinan yang selama ini diprakarsai oleh
pemerintahan Orde Baru menjadi tidak terurus dengan baik. Dampak yang
ditimbulkan dari kondisi yang demikian adalah meroketnya kembali angka
kemiskinan di Indonesia.
Indonesia adalah salah satu negara yang
kaya akan sumber daya alam (SDA). Namun dalam hal kualitas SDM, pada kenyataan
nya Indonesia masih kalah jika dibandingkan dengan negara tetangga. Inilah yang
menyebabkan Indonesia belum mampu mengolah kekayaan alamnya secara mandiri. Tak
hanya masalah kualitas SDM nya yang rendah, negara-negara berkembang seperti
Indonesia umumnya juga memiliki masalah tentang pertumbuhan penduduk,
pengangguran, kesenjangan sosial ekonomi, minimnya lapangan pekerjaan dan
banyaknya pemukiman kumuh. Namun dari sekian banyak masalah yang dihadapi
Indonesia, kesenjangan sosial ekonomi lah yang sampai saat ini membuat keadaan
Indonesia begitu sangat memprihatinkan.
Kesenjangan berarti ketimpangan atau
ketidaksesuaian. Kesenjangan juga dapat diartikan sebagai adanya jarak pemisah
antara satu hal dengan hal yang lainnya. Kesenjangan ekonomi berarti adanya
jarak atau ketimpangan antara si kaya dan si miskin karena adanya perbedaan
pendapatan yang sangat jauh. Masalah ini biasa terjadi pada negara dengan
pendapatan menengah, salah satunya Indonesia. Sayangnya, saat ini pemerintah
seolah sulit untuk mempersempit jurang pemisah antara si kaya dan si miskin.
Hal ini dikarenakan kesenjangan yang ada seolah dimanfaatkan untuk kegiatan
politik agar masyarakat simpatik terhadap tokoh atau partai politik tertentu.
Ketimpangan sosial ini harus diperhatikan karena akan berdampak langsung kepada
masyarakat. Tingginya perbedaan pendapatan antara si kaya dan si miskin juga
dapat disebabkan karena adanya perbedaan tingkat pendidikan dan jumlah
kesempatan kerja yang tidak sama. Selain itu, kurangnya lapangan pekerjaan di
Indonesia turut menjadi salah satu penyebab kesenjangan ekonomi antara si kaya
dan si miskin. Kebanyakan perusahaan atau lapangan pekerjaan yang ada lebih
mengutamakan orang yang memiliki pendidikan tinggi serta pengalaman kerja.
Sementara yang kita ketahui bahwa pemerataan pendidikan di Indonesia belum
terlaksana dengan baik. Disinilah peran pemerintah terutama Kementrian
Pendidikan untuk mengatasi kurang meratanya pendidikan di Indonesia. Biaya
pendidikan yang sangat tinggi juga turut menjadi kendala kurang meratanya
pendidikan di Indonesia.
Kesenjangan ekonomi antara si kaya
dan si miskin dapat kita lihat secara nyata di kota-kota yang umumnya masih
tergolong daerah terpencil. Banyak bangunan liar dan kumuh yang berdiri
berdampingan dengan gedung-gedung bertingkat. Miris sekali, jika harus
membayangkan hidup serba kekurangan ditengah gegap gempitnya kehidupan ibukota.
Keberadaan kaum urbanisasi yang tidak terurus ini justru akan menambah daftar
masalah sosial ekonomi yang bahkan sampai saat ini belum terselesaikan.
Indikasi ketimpangan yang terdapat di
wilayah khusus nya Provinsi Jawa Timur dapat dilihat dari perbedaan potensi
sumber daya yang berbeda antara satu wilayah dengan wilayah lainnya, karena
dipengaruhi oleh kondisi lingkungan seperti topografi, geologi, hidrologi,
klimatologi serta ketersediaan infrastruktur penunjang kesejahteraan
masyarakat. Adanya tujuan investasi modal yang hanya ada pada daerah tertentu
yang memiliki sumber daya alam ataupun sumber daya manusia serta infrastruktur
yang memadai seperti kabupaten Banyuwangi pada sektor pertanian, kabupaten
Gresik pada sektor industri, kabupaten Malang pada sektor pariwisata, serta
kota Surabaya dan kota Kediri pada sektor perdagangan dan jasa. Berdasarkan
data-data dari Jawa Timur pada tahun 2010, terdapat wilayah yang memiliki
sektor unggulan dalam sektor industri namun minim akan produksi hasil pertanian
seperti kabupaten Gresik, kabupaten Pasuruan, dan kota Surabaya. Ada juga
daerah yang unggul dalam sektor pertanian namun minim akan industri seperti kabupaten
Banyuwangi, dan kabupaten Blitar. Faktor infrasrtuktur, potensi SDA dan SDM merupakan
hal yang penting dalam mempengaruhi pertumbuhan wilayah. Dengan adanya SDA dan
adanya SDM yang mampu untuk mengolah sumber daya memberikan nilai tambah yang
besar tersendiri pada produk hasil wilayah yaitu dibutuhkan infrastruktur yang
memadai untuk bisa mendapatkan SDM yang berkualitas dan menunjang dalam
pengelolaan SDA kedepannya. Infrasrtuktur yang dimaksud adalah infrastruktur
dasar yaitu pendidikan dan kesehatan. Apabila siklus ini sudah tercipta dan
terkelola dengan baik dalam suatu wilayah, maka investasi akan menuju wilayah
ini dengan sendirinya. Pada intinya, investasi ini akan mencari daerah yang
memiliki sumber daya yang memiliki daya guna.
Penyebab tingginya angka kemiskian
dan ketimpangan distribusi pendapatan di provinsi Jawa Timur disebabkan oleh :
(1) Rendahnya kualitas sumber daya manusia, dibuktikan dengan rendahnya
pendapatan yang mengakibatkan masyarakat yang tidak mampu mengenyam pendidikan
yang lebih tinggi. (2) Pengelolaan sumber daya alam yanng kurang terorganisir
secara efisien dan efektif, sehingga tidak dapat memenuhi kebutuhan masyarakat.
(3) Pertumbuhan penduduk yang cepat namun tidak diimbangi dengan tingkat
pertumbuhan ekonomi yang cepat pula. (4) Pergeseran sektor agraris menuju ke
sektor industriliasi, yang menyebabkan lahan pertanian semakin sedikit dan
pembangunan industri semakin meningkat. Sedangkan masyarakatnya masih banyak
yang berprofesi sebagai petani. Sehingga penyerapan tenaga kerja semakin
sedikit. (5) Kepemilikan aset-aset produksi yang memberi kontribusi terhadap
peningkatan aktivitas ekonomi di Jawa Timur seperti tanah, bangunan, dan modal
usaha sehingga tidak dimiliki oleh warga Jawa Timur. (6) Infrastruktur daerah
yang belum memadai dan mendukung proses kegiatan perekonomian masyarakat,
seperti akses jalan yang jelek sehingga masyarakat tidak bisa melakukan
aktivitas perekonomian dengan lancar.
Penanggulan kemiskinan adalah
kewajiban dari pemerintah seperti yang sudah dijelaskan dalam peraturan
pemerintah nomor 15 tahun 2010 pada pasal 1 bahwa penanggulangan kemiskinan
adalah kebijakan dan program pemerintah serta pemerintah daerah yang dilakukan
secara sistematis, terencana, dan bersinergi dengan usaha dan masyarakat untuk
mengurangi jumlah penduduk miskin dalam rangka meningkatkan derajat
kesejahteraan rakyat. Dalam pepres nomor 15 tahun 2010 dijelaskan lebih lanjut
tentang strategi yang dijadikan acuan dalam menyusun program penanggulangan
kemiskinan di seluruh provinsi termasuk Jawa Timur. Susunan strategi
penanggulangan kemiskinan dibagi kedalam empat tahap, yaitu mengurangi beban
pengeluaran masyarakat miskin, meningkatkan kemampuan dan pendapatan masyarakat
miskin, mengembangkan dan menjamin keberlanjutan usaha mikro dan makro, dan
yang terakhir adalah dengan membentuk sinergi kebijakan dari program
penanggulangan kemiskinan.
Sebagai pemuda penerus bangsa, masa
depan negara ini ada ditangan kita. Kita sebagai generasi muda harus
mengoptimalkan kemampuan dan kepandaian serta kreatifitas yang kita miliki
untuk membangun bangsa ini baik di sektor perekonomian, sosial, budaya, dan
politik. Diharapkan di masa yang akan datang nanti lebih banyak wirausahawan
yang dapat membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain. Sehingga, perekonomian
rakyat Indonesia tidak hanya terpaku pada investasi pihak asing dan
ketergantungan pada sektor perindustrian. Memang di negara maju pada umumnya
kebanyakan sistem perekonomiannya memusatkan pada bidang industri, namun akan
lebih baik bila Indonesia bisa menjadi negara maju dengan memberdayakan sektor
ekonomi kreatif nya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar